Cianjur – Senin (2/4/2018) BMKG memberikan pemahaman tentang iklim Petugas Pengamat Organisme Tanaman (PPOT) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se Kabupaten Cianjur melalui Kegiatan Sekolah Lapang Iklim. Peserta PPOT dan Gapoktan nantinya akan menjadi user interface yang dapat menyampaikan informasi iklim dari BMKG kepada para petani.

Sosialisasi Agroklimat diikuti oleh 50 orang peserta PPOT dan Gapoktan . Kegiatan SLI – Sosialiasi Agroklimat diselenggarakan dari tanggal 2 – 4 April 2018 di Hotel Bydiel Cianjur.

Sekolah Lapang Iklim (SLI) tersebut merupakan program yang digagas oleh BMKG, sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi dampak iklim ekstrim. Iklim ekstrim merupakan tantangan dan ancaman nyata sektor pertanian dalam menjaga keberlansungan produksi pangan. Iklim ekstrim menyebabkan sulitnya petani dalam melaksanakan usaha taninya, misalnya dalam penentuan waktu dan pola tanam, pemilihan varietas, serta penanganan hama penyakit (OPT).

SLI adalah sekolah lapang yang dilaksanakan di alam terbuka dengan memberdayakan petani supaya mampu membaca kondisi iklim agar dapat meminimalisir penurunan produksi sebagai dampak fenomena iklim ekstrim seperti kekeringan yang berkepanjangan diakibatkan curah hujan yang rendah atau hujan yang terjadi terus-menerus dan mengakibatkan banjir.

Peserta SLI diberikan pemahaman mengenai informasi iklim, pembentukan awan dan hujan, mengenal alat ukur cuaca dan hujan serta kalibrasinya. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman terkait pengaruh cuaca/iklim terhadap hama dan penyakit tanaman, penggunaan informasi iklim untuk mengatur strategi pola dan jadwal tanam serta kearifan lokal, neraca air lahan dan manfaatnya untuk menentukan kebutuhan air irigasi.

Kepala Prodi Klimatologi Bapak Dr. Agus Safril ikut terlibat dalam kegiatan SLI ini sebagai salah satu pemateri. Bapak Dr. Agus Safril membawakan materi tentang “Anomali Iklim Akibat ENSO dan Variabilitas Musim”.
Melalui SLI para petani maupun penyuluh diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani apabila terjadi perubahan iklim ekstrim demi ketahanan pangan nasional. (NA/fomus)

Total Page Visits: 149 - Today Page Visits: 1

Leave a Comment